Mengembangkan sikap bersyukur dapat menciptakan perubahan yang luar biasa dalam hidup kita dan bahkan mengarah pada kesehatan mental yang lebih baik. Baca artikel ini untuk mendapatkan tips tentang cara mengembangkan rasa syukur.
Rasa syukur mencakup kesediaan individu untuk melihat kebaikan yang mereka terima dan semakin dipraktikkan sebagai nilai dalam berbagai budaya.
Individu dapat mengekspresikan rasa syukur melalui hadiah, bantuan, bantuan atau kemurahan hati antara satu individu dengan individu lainnya. Rasa syukur dapat digambarkan sebagai sebuah emosi, sementara beberapa penelitian menunjukkan bahwa rasa syukur adalah sebuah proses.
Bagian pertama dari proses ini adalah penegasan akan kebaikan ketika seseorang menyadari kebaikan di sekitarnya. Yang kedua adalah mengenali sumber kebaikan eksternal - individu lain, takdir, alam, atau kekuatan yang lebih tinggi - yang berarti mengakui bahwa seseorang telah mencapai hasil yang positif dan sumber eksternal menghasilkan hasil tersebut.
Rasa syukur dipelajari dalam berbagai agama dan telah menjadi topik yang menarik bagi para filsuf kuno, abad pertengahan, dan modern. Studi tentang rasa syukur dimulai pada tahun 1998 ketika Martin Seligman memperkenalkan konsep psikologi positif dalam psikologi sosial.
Psikologi positif berfokus pada penguatan sifat-sifat positif. Studi tentang rasa syukur menyelidiki perbedaan individu dalam hal bagaimana mereka mengalami rasa syukur, sifat syukur, dan respons rasa syukur jangka pendek, yaitu rasa syukur.
Namun, sebelum memperkenalkan psikologi positif, Robert Trivers memperkenalkan teori altruisme timbal balik pada tahun 1971. Teori ini menyatakan bahwa rasa syukur mengatur respons individu terhadap tindakan altruistik yang dilakukan oleh orang lain, yang memotivasi respons individu tersebut. Peneliti rasa syukur, Michael McCullough, menjelaskan bahwa rasa syukur dapat menyadarkan individu akan manfaat yang mereka terima dari orang lain, sehingga menginspirasi mereka untuk membalas rasa penghargaan tersebut.
Oleh karena itu, timbal balik merupakan konsep mendasar dalam evolusi rasa syukur. Kemampuan manusia untuk mengekspresikan emosi melalui timbal balik, altruisme, dan bahasa sejalan dengan ekspresi rasa syukur. Definisi rasa syukur dan praktiknya juga berkembang pada setiap individu dan budaya, dan rasa syukur kini dianggap sebagai nilai atau emosi universal.
Perbedaan antara rasa syukur dan hutang budi dapat dilihat dalam sebuah penelitian yang menyelidiki perasaan remaja migran terhadap orang tua mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan dari rasa syukur adalah untuk melayani, sedangkan rasa berhutang budi justru menantang hubungan antargenerasi setelah migrasi.
Ditemukan juga bahwa ketika individu mengharapkan lebih banyak dari pemberi bantuan, rasa terima kasih penerima bantuan menurun sementara rasa berhutang budi meningkat.
Rasa syukur adalah efek domino. Seseorang yang merasa bersyukur akan lebih mungkin untuk mengenali bantuan dari orang lain dan membalas bantuan tersebut sambil memperkuat ikatan atau hubungan mereka. Sebaliknya, ketika seseorang merasa berhutang budi, mereka tidak membalas emosi penghargaan atau hubungan sosial.
Efek positif dari mengekspresikan dan mengalami rasa syukur tidak terbatas. Penelitian tentang kebahagiaan menunjukkan bahwa rasa syukur dapat meningkatkan kebahagiaan dan mengarah pada kesehatan psikologis dan fisik, terutama di antara individu yang mengalami masalah kesehatan mental. Individu yang mengekspresikan rasa syukur memiliki kesejahteraan subjektif yang lebih tinggi, rasa memiliki tujuan, kontrol yang lebih besar atas hidup mereka, dan kesehatan mental yang lebih baik.
Rasa syukur dapat membantu individu mengatasi krisis. Menumbuhkan rasa syukur akan membangun sistem kekebalan psikologis yang melindungi individu ketika jatuh. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa individu yang bersyukur lebih tangguh dalam menghadapi gejolak pribadi yang besar atau masalah sehari-hari.
Mengingat penderitaan, kesedihan, kehilangan, dan kesedihan serta merenungkan posisi individu saat ini dapat membangkitkan rasa syukur. Individu yang menunjukkan rasa syukur akan membandingkan masa-masa positif dengan masa-masa yang lebih menantang di masa lalu, sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.
Proses ini memungkinkan individu untuk mengatasi tantangan dan kesulitan dengan penuh rasa syukur dan menumbuhkan rasa terima kasih, membuat mereka merasa bersyukur.
Jaringan saraf ini juga terhubung ke area lain di otak yang mengatur dan mengendalikan emosi dasar, termasuk tingkat gairah dan detak jantung yang terkait dengan pengurangan rasa sakit dan penghilang stres. Tingkat stres dan rasa sakit yang lebih rendah kemudian dapat meningkatkan kesehatan mental pada individu dan dikaitkan dengan lebih banyak latihan bersyukur.
Selain itu, rasa syukur juga dapat membantu individu yang mengalami depresi. Penelitian menunjukkan bahwa berlatih rasa syukur dapat mengubah fungsi otak dengan menginduksi perubahan struktural di bagian otak yang aktif selama depresi. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa intervensi rasa syukur berhasil meningkatkan ketahanan mental pada orang dewasa yang lebih tua.
Orang yang bersyukur lebih sadar akan kebaikan di sekitar mereka, yang membantu menonjolkan perasaan emosi positif, kebahagiaan, dan optimisme. Berlatih bersyukur membantu otak bereaksi lebih sensitif terhadap pengalaman bersyukur di masa depan, sehingga menghasilkan kesehatan mental yang jauh lebih baik.
Rasa syukur menegaskan emosi positif pada individu dan mengalihkan perhatian dari perasaan negatif seperti iri hati dan dendam, meningkatkan ketahanan mental dan meminimalkan kemungkinan untuk merenung. Emosi negatif adalah ciri khas depresi. Oleh karena itu, individu yang bersyukur lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami depresi.
Selain itu, individu yang mempraktikkan rasa syukur akan mengalami lebih banyak emosi positif, lebih jarang mengalami stres, lebih kecil kemungkinannya untuk menderita insomnia, dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mempraktikkan rasa syukur dan menulis surat terima kasih lebih cenderung makan lebih sehat dan melakukan aktivitas fisik. Namun, mereka tetap merasakan hal tersebut bahkan setelah kegiatan menulis surat terima kasih berakhir.
Manfaat fisik lain dari mempraktikkan rasa syukur adalah menenangkan sistem saraf melalui perubahan fisiologis. Perubahan fisiologis yang umum terkait dengan rasa syukur meliputi peningkatan tonus vagal, indeks pengaruh parasimpatis yang lebih tinggi pada sistem saraf tepi, dan penurunan tekanan darah.
Sistem saraf parasimpatis yang dirangsang oleh tonus vagal memungkinkan tubuh untuk menghemat energi dengan merangsang pencernaan, memperlambat detak jantung, dan menghasilkan relaksasi. Rasa syukur bekerja dengan cara menenangkan sistem saraf.
Penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan gagal jantung yang ditempatkan dalam kelompok jurnal menunjukkan variabilitas yang lebih besar dalam denyut jantung parasimpatis, sebuah tanda kesehatan jantung dan kardiovaskular yang lebih baik.
Terdapat perbedaan dalam cara individu mempraktikkan, memandang, dan mengalami rasa syukur. Penelitian terbaru telah menyelidiki perbedaan individu dalam rasa syukur dan membuat skala yang mengukur perbedaan individu.
Skala ini mengukur berbagai aspek rasa syukur, termasuk apresiasi terhadap momen saat ini, orang lain, ritual, perbandingan sosial, harta benda, dan masalah eksistensial. Skala lain menilai rasa syukur terhadap dunia dan orang lain dan kurangnya kebencian terhadap apa yang tidak dimiliki individu. Beberapa skala ini termasuk GRAT, skala Apresiasi dan GQ6.
Hubungan antara rasa syukur dan spiritualitas baru-baru ini telah diteliti. Meskipun hubungan antara spiritualitas dan rasa syukur belum diketahui dengan jelas, penelitian menunjukkan bahwa spiritualitas dapat memengaruhi dan meningkatkan kemampuan seseorang untuk mempraktikkan rasa syukur. Individu yang menghadiri atau terlibat dalam layanan dan kegiatan keagamaan cenderung memiliki rasa syukur yang lebih besar dalam hidup.
Rasa syukur adalah hal yang umum dalam agama, termasuk Islam, Kristen, dan Yahudi. Oleh karena itu, rasa syukur merupakan emosi umum yang ditekankan dan dibangkitkan oleh agama-agama dan dianggap sebagai emosi atau nilai universal.
Kitab suci, Al-Quran, menekankan nilai rasa syukur dan mendorong para pengikutnya untuk mengucapkan terima kasih kepada Allah dan bersyukur dalam segala situasi. Ajaran Islam menekankan bahwa mereka yang mempraktikkan rasa syukur akan menerima pahala yang lebih besar dalam hidup.
Banyak praktik-praktik Islam yang juga mendorong rasa syukur. Sebagai contoh, Rukun Islam yang menekankan pada doa harian mendorong orang beriman untuk berdoa kepada Allah lima kali sehari untuk mengungkapkan rasa syukur, dan rukun puasa juga bertujuan untuk menempatkan orang beriman dalam keadaan bersyukur.
Rasa syukur membentuk kekristenan dan disebut sebagai "inti dari Injil". Dalam agama Kristen, orang percaya selalu didorong untuk bersyukur kepada pencipta mereka, pemberi segala kebaikan dalam hidup tanpa pamrih.
Rasa syukur dan terima kasih memupuk ikatan bersama di antara orang-orang Kristen, membentuk semua aspek kehidupan individu, termasuk tindakan dan perbuatan mereka. Ucapan syukur, misalnya, adalah mengakui kemurahan hati Tuhan dan bersyukur atas segala sesuatu yang dimiliki seseorang dalam hidupnya.
Bersyukur adalah bagian penting dari ibadah dalam agama Yahudi. Berdasarkan pandangan dunia Ibrani, segala sesuatu berasal dari Tuhan, yang sangat penting bagi penganut Yudaisme.
Praktik-praktik dalam Yudaisme, termasuk doa utama tiga kali sehari, Amidah, berbicara tentang rasa syukur dengan berterima kasih kepada Tuhan atas takdir individu. Selain itu, ada penekanan besar pada tindakan kebaikan dan kebaikan. Sebagai contoh, istilah Ibrani untuk rasa syukur adalah "hakarat hatov", yang berarti mengenali kebaikan.
Para ilmuwan yang menyelidiki intervensi rasa syukur, seperti jurnal dan surat, pada mahasiswa telah menemukan peningkatan skor kebahagiaan dan peningkatan pengaruh positif pada kelompok yang bersyukur. Membuat jurnal atau menulis surat rasa syukur dapat bermanfaat bagi individu yang mencari layanan konseling kesehatan mental.
Menulis surat syukur atau membuat jurnal adalah salah satu bentuk praktik bersyukur secara tertulis yang dapat membantu menyampaikan penghargaan kepada seseorang dalam kehidupan seseorang. Berbagi rasa syukur dengan anggota keluarga atau teman, bahkan di meja makan, dapat menghasilkan hubungan yang kuat. Praktik ini menghasilkan persepsi yang lebih positif terhadap teman, keluarga, atau pasangan dengan kepercayaan yang lebih besar.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa efek jangka pendek terbesar dari rasa syukur berasal dari kunjungan rasa syukur, di mana para peserta menulis dan mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada orang-orang yang mereka kenal dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah jurnal rasa syukur atau surat ucapan terima kasih memungkinkan seseorang untuk menghitung berkat-berkat mereka. Berdoa, meditasi, dan berterima kasih kepada seseorang adalah cara lain untuk mempraktikkan rasa syukur secara teratur.
Meditasi dapat membantu menumbuhkan rasa syukur dan terima kasih dengan menjadi lebih sadar dan waspada terhadap lingkungan sekitar melalui indera mereka dan menangkap hal-hal yang membuat seseorang merasa puas atau bahagia.
Meditasi penuh kesadaran melibatkan fokus pada saat ini tanpa menghakimi dan fokus pada apa yang disyukuri seseorang (kehangatan matahari, suara yang menyenangkan, atau seseorang).
Menyebarkan rasa syukur melalui media sosial adalah cara lain untuk menumbuhkan rasa syukur; berbagi momen atau pelajaran yang menggembirakan dan menyemangati orang lain akan menciptakan efek domino rasa syukur. Selain itu, berbagi dan menyimpan daftar kutipan rasa syukur dapat membantu seseorang untuk mendapatkan inspirasi atau melewati hari yang penuh tantangan.
Orang yang bersyukur selalu menghitung berkat mereka. Menghitung berkat dan beban adalah dasar dari mempraktikkan rasa syukur, yang akan menghasilkan emosi positif.
Hubungan antara rasa syukur dan peningkatan kepuasan hidup telah dibuktikan dengan baik dalam penelitian. Dengan latihan, individu dapat belajar untuk menavigasi tantangan dengan rasa syukur dan belajar untuk melihat gambaran yang lebih besar. Selanjutnya, menulis rasa syukur memiliki banyak manfaat bagi semua orang yang terlibat, termasuk manfaat sosial dan individu.
Meskipun rasa syukur dimulai dari satu individu, efek dari rasa syukur dapat menyebar ke seluruh jaringan sosial atau ke dalam hubungan diadik. Individu dapat mempraktikkan rasa syukur untuk memperluas lingkaran penghargaan mereka dan menyadari diri mereka sendiri, orang lain dan lingkungan, selain meningkatkan kesejahteraan mereka.
Isi dari artikel ini disediakan hanya untuk tujuan informasi dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan saran, diagnosis, atau perawatan medis profesional. Selalu disarankan untuk berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan yang berkualifikasi sebelum melakukan perubahan yang berhubungan dengan kesehatan atau jika Anda memiliki pertanyaan atau kekhawatiran tentang kesehatan Anda. Anahana tidak bertanggung jawab atas kesalahan, kelalaian, atau konsekuensi yang mungkin terjadi dari penggunaan informasi yang diberikan.